Olah rasa / olah getaran

Ketika kita bersentuhan dengan orang lain tentunya ndak selamanya membawa hawa/energi positif, terkadang ketika bertemu dengan sahabat/teman kita bisa merasa nyaman ataupun bisa merasa ndak enak, ndak nyamann untuk menemuinya. Apa sebenarnya penyebabnya ??? saya tidak meneliti karena saya bukan peneliti, dan saya tidak mengamati secara terus menerus karena saya buka pengamat. Namun saya rasakan dengan hati ternyata tergantung keadaan kondisi orang lain itu. Ketika keadaan stabil/normal banyak energi postif maka ketika kita bertemu pun rasanya akan enak, hati kita ndak sakit. Namun ketika  kondisi orang lain sedang down maka hawa/rasa nya ndak begitu enak. Bisa kita perbandingkan dengan ketika kita berada di alam terbuka yang masih natural  sangat sedikit orang yang kurang baik maka hawanya akan terasa begitu indah dan nikmat. Karena suasana alam tersebut masih supranatural.

Di sinilah ketika kita bisa mengolah energi/rasa/hawa tersebut agar senantiasa positif dan memberikan efek yang baik pada orang lain. Semakin besar energi positif yang kita pancarkan semakin besar pula getaran yang timbul dari efek diri kita. Dari getaran ini lah yang banyak di manfaatkan oleh ahli hikmah. Semakin besar orang memiliki getaran maka banyak yang tertarik untuk mendekat untuk hanya sekedar bertemu, menyapa atau bahkan mungkin konsultasi tentang dirinya.

Begitu pentingnya kita untuk belajar mengolah rasa agar menjadikan hidup kita lebih bahagia dan tentunya lebih terarah menuju tujuah hidup kita.

<((Kimangli)))> :  nguri-uri budaya warisan leluhur Indonesia.

Mari kita saling mengingatkan dalah hal-hal kebaikan.

Bersama menuju kebahagiaan dunia dan akherat.

Advertisements

SEJATINIG URIP

Hidup akan lebih indah ketika kita tahu jati diri kita. Namun tak semudah membalikkan tangan untuk mengenal / mengerti jati diri. Untuk mendapatkannya pun beragam ada yang masih kecil sudah tau, ada yang sudah tua baru tahu atau mungkin hampir di ujung kematian baru tahu jati diri yang sesungguhnya. Terkadang untuk mendapatkan/mengerti pun tidak harus di tempat2 tertentu. Bisa sajadekat dengan kita namun kita harus pergi menjauh terlebih dahulu. Orang yang tahu jati diri nya yang sesungguhnya akan menjalani hidup lebih hati2, waspada dan bermakna. Sementara orang yang belum tahu jati dirinya dia akan bingung, karena ndak tahu apa hakikatnya yang di tuju dalam kehidupan ini.

Wisata Religi Situs Tebet Madas Mayung

Dinamakan situs Tebet Madas Mayung menurut cerita masyarakat setempat situs tersebut berada di perbatasan desa dan bentuknya menyerupai payung dari batu padas. Situs tersebut sebenarnya merupakan dolmen yang bentuknya seperti meja batu berkakikan menhir yang berfungsi sebagai tempat sesaji dan pemujaan arwah nenek moyang serta di bawah / sekitarnya terdapat kubur batu. Di sebelah timur situs tersebut terdapat aliran sungai yang digunakan sebagai tempat bersuci pada masa prasejarah sebelum menuju tempat pemujaan arwah nenek moyang. Peninggalan yang terdapat di lokasi situs tersebut antara lain batu dolmen yang berbahan dasar batu andesit lebar 97 cm, panjang 101 cm, tebal 18 cm. Beberapa buah menhir kecil yang berfungsi sebagai sarana  pelengkap upacara ritual pemujaan arwah nenek moyang. Pengelolaan pemeliharaan situs tersebut dilakukan oleh Bapak Sudiro (perangkat Desa Sambirata) selaku juru pelihara. Kondisi situs masih asli dan terawatt (www.banyumaskab.go.id).

Untuk menuju lokasi situs Tebet Madas Mayung, dari pertigaan Losari Cilongok ke utara terus, melewati desa kali sari, sampai menuju Karang Tengah. Dengan arah lurus terus ke utara. Setelah sampai di desa karang tengah (balai desa) menuju ke utara melewati Legok, Masjid besar karang tengah dan sampai di perempatan yang mau menuju cipendok. Kemudian belok kanan menuju arah desa Sambirata. Akan di temui pemandangan alam yang cukup indah dan lingkungan desa yang ramah. Menyusuri jalan lingkungan yang sudah di aspal dan sampai ujung menyusuri persawahan di karang tengah dan sampai di dukuh madas mayung.

Lokasi situs tebet madas mayung lumayan jauh dari permukiman, dan memang jarang sekali terjamah oleh masyarakat. Situs itu berada di atas sawah dengan ketinggian yang lumayan. Peziarah atau yang ingin berdoa kepada Alloh swt di lokasi tersebut kebanyakan justru dari luar daerah, seperti Jakarta, bandung, Surabaya dan sebagainya. Menurut warga sekitar yang saya temui dan saya ajak ngobrol di aliran sungai cipendok menuturkan, bahwa lokasi itu cukup mistis. Jarang sekali yang melewati kesana kecuali karena ada maksud/hajat tertentu. Dan juru kuncinya pun tidak setiap hari ada hanya hari2 tertentu seperti malam jumat kliwon atau selasa kliwon atau hari yang di anggap perlu oleh yang punya hajat. Situs ini dilarang keras sebagai pemujaan, dan sarana syirik. Tidak boleh di situs ini untuk mencari kesugihan, kata warga sekitar yang tidak mau disebutkan namanya. Tempat hanya media untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya hanya menyampaikan dan semuanya terserah kepada keyakinan masing-masing.

<((Kimangli)))> :  nguri-uri budaya warisan leluhur Indonesia.

Mari kita saling mengingatkan dalah hal-hal kebaikan.

Bersama menuju kebahagiaan dunia dan akherat.