Kegiatan Peringatan Hari Jadi Banyumas Tahun 2011

DENGAN HARI JADI KE 429 KABUPATEN BANYUMAS,
KITA KOKOHKAN SEMANGAT BUDAYA GOTONGROYONG
SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN

SUB TEMA :

1.  KABUPATEN BANYUMAS TAMBAH TUA, RAKYATE TAMBAH TEMUA.

2.  MARI KITA PERKOKOH SEMANGAT GOTONG ROYONG

3.  MARI KITA WUJUDKAN LINGKUNGAN YANG BERSIH DAN SEHAT

4.  RUKUN AGAWE SENTOSA, CRAH AGAWE BUBRAH

5.  MARI KITA WUJUDKAN MASYARAKAT BANYUMAS SING RESIK ATINE, RESIK PIKIRANE, RESIK TINDAKANE, LAN RESIK UCAPANE.

6.  BERSAMA KITA WUJUDKAN MASYARAKAT BANYUMAS YG CERDAS, SEHAT, BERBUDAYA, BERIMAN DAN BERTAQWA.

7.  RAKYATE GUYUB RUKUN, PEMBANGUNANE LANCAR, BANYUMAS MAJU LAN SEJAHTERA.

8.  MARI KITA TINGKATKAN SEMANGAT TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA.

9.  MARI KITA TINGKATKAN MASYARAKAT BANYUMAS SING ” DHUWUR ILMUNE, JERO KAWRUHE, LUHUR BEBUDINE”

Rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke

429 Kabupaten Banyumas Tahun 2011 adalah :

ACARA POKOK :

1.  KIRAB PROSESI HARI JADI KE 429 KAB. BANYUMAS :

Dilaksanakan pada Minggu tanggal 3 April 2011 mulai pukul 14.00 WIB s/d selesai. Diikuti  oleh  Bupati  Banyumas,  Para  Pejabat  Muspida  Kab.  Banyumas,  Para Pejabat Eselon di Lingkungan Pemda Kab. Banyumas dan Perwakilan Grup-grup kesenian unggulan dari 27 Kecamatan dalam wilayah Kab. Banyumas, dengan route : start dari Taman Rekreasi Andang Pangrenan – filish di alun-alun Purwokerto.

2.  ZIARAH KE MAKAM DAWUHAN :

Dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 5 April 2011 mulai pukul 08.00 WIB s/d selesai, dilanjutkan tasyakuran di Pendopo Kec. Banyumas ;

3.  UPACARA PARADE HARI JADI KE 429 KAB. BANYUMAS :

Dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 6 April 2011 dimulai pukul 08.00 WIB s/d selesai, bertempat alun-alun Purwokerto, dilanjutkan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kab. Banyumas ;

4.  MADHANG BARENG SEGA TUMPENG :

Dilaksanakan pada Rabu tanggal 6 April 2011 mulai pukul 18.30 WIB s/d selesai bertempat di alun-alun Purwokerto.

5.  RESEPSI HARI JADI KE 429 KAB. BANYUMAS :

Dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011 mulai pukul 19.00 WIB s/d selesai, bertempat di halaman Pendopo Sipanji Kab. Banyumas dilanjutkan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji.

ACARA TAMBAHAN :

1.  GRAND FINAL LOMBA LAGU BANYUMASAN :

Dilaksanakan  pada  Sabtu  tanggal  12  Maret  2011  mulai  pukul  19.00  WIB  s/d selesai, bertempat Taman Rekreasi Andang Pangrenan.

2.  SENAM AEROBIC MASSAL :

Dilaksanakan  pada  hari  Minggu  tanggal  13  Maret  2011    Pukul:  06.30  WIB

bertempat di Taman Rekreasi Andang Pangrenan.

3.  JAB  MOTO ADVENTURE :

Dilaksanakan pada hari Minggu, 20 Maret   2011, pukul. 09.00 WIB s.d selesai , Start Alun-alun Banyumas dengan peserta Pencinta Motor Adventur Se – Jawa.

4.  NGEPIT BARENG :

Dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 1 April 2011 mulai 07.00 WIB s/d selesai, diikuti oleh para Pejabat di Lingkungan Pemda   Kab. Banyumas dan warga masyarakat, start dan finish di Taman Rekreasi Andang Pangrenan Purwokerto.

5.  LOMBA TENIS ANTAR INSTANSI SE JAWA TENGAH :

Dilaksanakan pada Sabtu, Minggu, 2, 3 April 2011 mulai Pukul 07.00 WIB s.d selesai bertempat di lapangan tennis GOR Satria Purwokerto.

6.  BERSIH PRAJA :

Kerja bakti membersihkan lingkungan Kantor, Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial oleh seluruh masyarakat secara serentak se-Kab. Banyumas, dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 27 Maret 2011 mulai pukul 07.00 WIB s/d selesai.

7.  BANYUMAS MOTOPRRIX TINGKAT NASIONAL :

Dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011, mulai pukul 08.00 WIB s.d selesai bertempat GOR Satria Purwokerto

8.  FESTIVAL KENTONGAN :

Dilaksanakan pada hari Jumat tanggal  8 April 2011, pukul 19.00 WIB s.d selesai,

Start alun-alun – finish di Taman Rekreasi Andang Pangrenan  Purwokerto.

Untuk memeriahkan suasana dalam rangka menyambut Hari Jadi ke 429 Kabupaten Banyumas Tahun 2011, menghimbau kepada seluruh warga masyarakat untuk memasang rontek, umbul-umbul, layur, lampu hias, spanduk, dll. Mulai tanggal 1 s/d 15

April 2011, pengibaran Bendera merah putih satu tiang penuh tanggal 5 s/d 7 April 2011.

Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap agar Peringatan Hari Jadi Kabupaten Banyumas tidak dilihat sebagai kegiatan rutin semata tetapi lebih dari pada itu sebagai momen yang penting dan strategis bagi generasi muda untuk  lebih menghormati  para pendiri dan para pendahulu Kab. Banyumas.

sumber : http://www.banyumaskab.go.id


Wisata Religi Situs Tebet Madas Mayung

Dinamakan situs Tebet Madas Mayung menurut cerita masyarakat setempat situs tersebut berada di perbatasan desa dan bentuknya menyerupai payung dari batu padas. Situs tersebut sebenarnya merupakan dolmen yang bentuknya seperti meja batu berkakikan menhir yang berfungsi sebagai tempat sesaji dan pemujaan arwah nenek moyang serta di bawah / sekitarnya terdapat kubur batu. Di sebelah timur situs tersebut terdapat aliran sungai yang digunakan sebagai tempat bersuci pada masa prasejarah sebelum menuju tempat pemujaan arwah nenek moyang. Peninggalan yang terdapat di lokasi situs tersebut antara lain batu dolmen yang berbahan dasar batu andesit lebar 97 cm, panjang 101 cm, tebal 18 cm. Beberapa buah menhir kecil yang berfungsi sebagai sarana  pelengkap upacara ritual pemujaan arwah nenek moyang. Pengelolaan pemeliharaan situs tersebut dilakukan oleh Bapak Sudiro (perangkat Desa Sambirata) selaku juru pelihara. Kondisi situs masih asli dan terawatt (www.banyumaskab.go.id).

Untuk menuju lokasi situs Tebet Madas Mayung, dari pertigaan Losari Cilongok ke utara terus, melewati desa kali sari, sampai menuju Karang Tengah. Dengan arah lurus terus ke utara. Setelah sampai di desa karang tengah (balai desa) menuju ke utara melewati Legok, Masjid besar karang tengah dan sampai di perempatan yang mau menuju cipendok. Kemudian belok kanan menuju arah desa Sambirata. Akan di temui pemandangan alam yang cukup indah dan lingkungan desa yang ramah. Menyusuri jalan lingkungan yang sudah di aspal dan sampai ujung menyusuri persawahan di karang tengah dan sampai di dukuh madas mayung.

Lokasi situs tebet madas mayung lumayan jauh dari permukiman, dan memang jarang sekali terjamah oleh masyarakat. Situs itu berada di atas sawah dengan ketinggian yang lumayan. Peziarah atau yang ingin berdoa kepada Alloh swt di lokasi tersebut kebanyakan justru dari luar daerah, seperti Jakarta, bandung, Surabaya dan sebagainya. Menurut warga sekitar yang saya temui dan saya ajak ngobrol di aliran sungai cipendok menuturkan, bahwa lokasi itu cukup mistis. Jarang sekali yang melewati kesana kecuali karena ada maksud/hajat tertentu. Dan juru kuncinya pun tidak setiap hari ada hanya hari2 tertentu seperti malam jumat kliwon atau selasa kliwon atau hari yang di anggap perlu oleh yang punya hajat. Situs ini dilarang keras sebagai pemujaan, dan sarana syirik. Tidak boleh di situs ini untuk mencari kesugihan, kata warga sekitar yang tidak mau disebutkan namanya. Tempat hanya media untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya hanya menyampaikan dan semuanya terserah kepada keyakinan masing-masing.

<((Kimangli)))> :  nguri-uri budaya warisan leluhur Indonesia.

Mari kita saling mengingatkan dalah hal-hal kebaikan.

Bersama menuju kebahagiaan dunia dan akherat.

Situs Watu Guling Desa Datar Kec. Sumbang

Situs Watu Guling terdapat di Desa Datar, Kec. Sumbang di sebelah selatan pemakaman umum Desa Datar. Dinamakan situs Watu Guling, menurut cerita masyarakat setempat batu tersebut berasal dari pegunungan daerah selatan yang ditendang oleh Bima dan jatuh berguling – guling  dan berhenti  di daerah yang datar yang kemudian dinamakan Desa Datar.

Sebenarnya situs tersebut merupakan tempat pemujaan arwah nenek moyang pada zaman prasejarah yang pada awalnya merupakan punden berundak  yang berorientasi ke arah utara selatan mengarah kepada gunung Slamet, dan diyakini sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang, akan tetapi karena  pengaruh  alam  dan  ketidaktahuan masyarakat setempat, teras pertama dan kedua  sudah tidak ada  dan langsung menuju teras ketiga.
Peninggalan yang terdapat  pada situs tersebut antara lain :
– Batu Menhir 2 buah dengan ukuran masing – masing tinggi  137
cm dan garis tengah  42 cm.
Batu Lumpang ( pecah dan hilang 1/5 bagian ) 1 buah dengan ukuran tinggi 25 cm, garis tengah  46 cm dan ketebalan  4  cm.
Sedangkan luas keseluruhan situs adalah , panjang 5 m dan lebar 4 m. Pengelolaan pemeliharaan  ditangani oleh  Ny. Karsinah selaku juru pelihara. Kondisi situs masih asli  dan terpelihara. ( Ditulis kembali oleh Legono. S.Pd Pamong Budaya Sejarah Dinbudpar Kab. Banyumas)

Saya sempat berkunjung ke lokasi situs Watu Guling di desa Datar Kec. Sumbang. dan memang masyarakat di sekitar masih tetap menjaga kelestarian dan keaslian peninggalan leluhur tersebut. menurut warga sekitar situs watu guling rame di kunjungi orang pada malam jumat kliwon. mereka yang datang ke situ bermaksud bedoa kepada Tuhan YME agar keinginan dan cita2nya tercapai. menurut pengamatan saya batu2 tersebut memang terasa energinya dan di sekitar watu lumpang ada tempat untuk sesaji.

di lokasi situs watu guling juga terasa nyaman, sejuk damai karena memang lokasinya di pedesaan. saya pun sempat bersantai di dalam situs tersebut. saya kesitu bermaksud melihat dan ingin nguri2 budaya peninggalan leluhur. kebetulan saya ke tempat lokasi itu pada siang hari jadi tampak jelas terkena pantulan sinar matahari batu tersebut.

Walloohu ‘Alam bishowab.

mari bersama melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur.

mari bersama-sama saling mengingatkan dalam hal kebaikan. kita gapai kejayaan nusantara di era ini. jadikan negeri ini yang gemah ripah loh jinawi.

-<( kimangli )>-

Masjid Kajiwatu Tamansari Karanglewas Banyumas

kimangli : kajiwatu

Masjid  Batu (Watu) dikenal  oleh  masyarakat  sekitar  namanya  yaitu  MASJID  KAJI  WATU. Nama  tersebut  tidak  asing  lagi  karena  yang  membuat  masjid  tersebut  adalah  seorang  tokoh  agama  didaerah  tersebut  yang  mempunyai  kelebihan  memecah  batu  sebesar  rumah  untuk  disulap  menjadi  sebuah  bangunan  masjid.  Dengan  kekuatan  doa-doanya  Mbah  Abdulah  Ngisa  namanya  mempunyai  keinginan  akan  membuat  tempat  ibadah  dari  batu  yang  ada  di  pekarangannya.

Mbah  Abdulah  Ngisa  waktu  kecilnya  bernama  Darsan  lahir   tahun   1850-an.  Setelah  naik  Haji  Darsan  berganti  nama  Abdulah  Ngisa,  untuk  mengingat  sejarah  pertama  kali  membelah  batu  di  waktu  sholat  Isa. Kaji watu juga bisa merarti mengaji di atas batu atau mempelajari ajaran-agama sambil duduk di atas batu.

Kondisi  batu  sebelum  dibuat  masjid  konon  kabarnya  sangat  angker  dan  banyak  penghuni  lelembut  yang  sering  mencelakakan  baik  hewan  maupun  manusia.

Di  suatu  saat  Mbah  Abdulah  Ngisa  kedatangan  tamu  seorang  ulama  dari  Buntet  Cirebon  yang  bernama  Kyai  Abbas,  bahwa  batu  ini  bisa  untuk  tempat  berlindung  pejuang  Indonesia  untuk  melawan  Belanda.  Tentara  Belanda  tidak  berani  menyerang  tentara  RI  yang  sedang  berlindung  di  sekitar  batu  yang  angker  tersebut.

Masjid Batu  asal mulanya adalah sebuah batu besar  kemudian dipecah oleh mbah Abdulah Ngisa sampai menjadi sebuah lantai. Pecahan batu ada yang dibuat tiang , dinding dan daun pintu. Dengan ketekunan mbah Abdullah Ngisa  pecahan pecahan batu itu disusun dan dibuat sebuah rumah ibadah yaitu Masjid Batu, yang artinya sebuah bangunan masjid yang dibuat serba batu.Kelebihan  pecahan batu sebagian untuk membangun rumah tinggalnya yang tidak jauh dari lokasi.  ( ditulis kembali oleh Karsono. Ama.Pd Pamong Budaya Kepurbakalaan Dinbudpar Kab. Banyumas)

Masjid  Batu  dikenal  oleh  masyarakat  sekitar  namanya  yaitu  MASJID  KAJI  WATU. Nama  tersebut  tidak  asing  lagi  karena  yang  membuat  masjid  tersebut  adalah  seorang  tokoh  agama  didaerah  tersebut  yang  mempunyai  kelebihan  memecah  batu  sebesar  rumah  untuk  disulap  menjadi  sebuah  bangunan  masjid.  Dengan  kekuatan  doa-doanya  Mbah  Abdulah  Ngisa  namanya  mempunyai  keinginan  akan  membuat  tempat  ibadah  dari  batu  yang  ada  di  pekarangannya.

Mbah  Abdulah  Ngisa  waktu  kecilnya  bernama  Darsan  lahir   tahun   1850-an.  Setelah  naik  Haji  Darsan  berganti  nama  Abdulah  Ngisa,  untuk  mengingat  sejarah  pertama  kali  membelah  batu  di  waktu  sholat  Isa. Kaji watu juga bisa merarti mengaji di atas batu atau mempelajari ajaran-agama sambil duduk di atas batu.

Kondisi  batu  sebelum  dibuat  masjid  konon  kabarnya  sangat  angker  dan  banyak  penghuni  lelembut  yang  sering  mencelakakan  baik  hewan  maupun  manusia.

Di  suatu  saat  Mbah  Abdulah  Ngisa  kedatangan  tamu  seorang  ulama  dari  Buntet  Cirebon  yang  bernama  Kyai  Abbas,  bahwa  batu  ini  bisa  untuk  tempat  berlindung  pejuang  Indonesia  untuk  melawan  Belanda.  Tentara  Belanda  tidak  berani  menyerang  tentara  RI  yang  sedang  berlindung  di  sekitar  batu  yang  angker  tersebut.

Masjid Batu  asal mulanya adalah sebuah batu besar  kemudian dipecah oleh mbah Abdulah Ngisa sampai menjadi sebuah lantai. Pecahan batu ada yang dibuat tiang , dinding dan daun pintu. Dengan ketekunan mbah Abdullah Ngisa  pecahan pecahan batu itu disusun dan dibuat sebuah rumah ibadah yaitu Masjid Batu, yang artinya sebuah bangunan masjid yang dibuat serba batu.Kelebihan  pecahan batu sebagian untuk membangun rumah tinggalnya yang tidak jauh dari lokasi.  ( ditulis kembali oleh Karsono. Ama.Pd Pamong Budaya Kepurbakalaan Dinbudpar Kab. Banyumas)

keberadaan masjid ini di desa tamansari kecamatan karanglewas sangat terawat. kunjungan saya ke masjid watu tersebut pada saat sholat maghrib. cuma terkendala air. di daerah ini cukup susah untuk mendapatkan air. untuk air wudhunya harus menimba air di sumur yang sangat dalam, dan sebenarnya juga ada air tuk yang di gunakan warga sekitar untuk berwudhu, mandi dan untuk mencuci.

untuk kegiatan pengajian dari pengamatan saya sepintas mungkin karena daerah/grumbul di situ warga nya sedikit atau bagaimana yang jelas pada saat itu jamaah sholatnya cuma di barisan soft depan sendiri, itu saja ndak penuh. dan saya perhatikan bada maghrib juga ndak ada kegiatan kajian Al-quran maupun kitab kuning di masjid tersebut. jamaah asyik berdzikir sendiri2…

Smoga keberadaan masjid ini tetap lestari dan menjadi paku penguat islam di wilayah banyumas satria ini.

mari bersama-sama saling mengingatkan dalam hal kebaikan. kita gapai kejayaan nusantara di era ini. jadikan negeri ini yang gemah ripah loh jinawi.

-<( kimangli )>-